Pro dan Kontra Ilmu Hikmah   Leave a comment

Ilmu Hikmah adalah sebutan buat ‘ilmu gaib’ yang menggunakan ayat ayat suci sebagai landasannya. Awalnya adalah menggunakan nama Alloh dalam doa, sebab Alloh lah pengabul doa. Lalu dicari ayat ayat suci yang punya keterkaitan dengan hajat. Misalnya untuk urusan karisma dan pengasihan dipakai Yusuf 4. Untuk keselamatan, panglimunan, pambungkeman  dipakai Al Baqaroh 18. Untuk keselamatan dan tenaga dalam di pakai At Taubah 128 dan 129.

Bagus sekali bukan ? Intinya tetap bersandar pada pertolongan Alloh. Sayangnya kemudian berkembang hal hal yang nyleneh, misalnya terkait dengan asbabun nuzul alias sebab sebab turunnya ayat.  Misalnya ayat panglimunan (ilmu menghilang) yang konon dipakai saat nabi Muhammad SAW menyelamatkan diri saat mau dibunuh dan diganti sahabat Ali.  Atau ayat kebal yang konon dipakai nabi Muhammad SAW saat berperang. Lupakah kita saat nabi di kejar Datsur, ditanya siapa yang melindungimu dan dijawab : Alloh….. maka jatuhlah pedang dari tangan Datsur ? Tidak ada ayat khusus yang dibaca nabi.

Lebih nyleneh lagi ada kiai yang saat minta mahar dari ijazah ilmunya pakai argument ayat Al Baqaroh 41: janganlah menukarkan ayat ayat Ku dengan harga yang rendah. Padahal asbabun nuzulnya kan sindiran buat pemuka agama Yahudi saat itu yang banyak menyelewengkan ayat suci mereka.  Jadi mirip kiai kiai yang jadi jurkam saat kampanye pilkada atau pemilu.   Lebih baik kan kalau pakai alasan, jika dapat ijazahnya murah atau gratis, ilmu tak akan diwirid, diamalkan. Atau bilang saja, adab berguru memang begitu.

Dari islam golongan tertentu banyak juga yang protes. Dianggap itu suatu bid’ah. Tak ada ceritanya jaman nabi Muhammad SAW dulu baca ayat tertentu buat pentalkan lawan dengan pukulan jarak jauh (ilmu tenaga dalam), anti gores dan bacok, ilmu menghilang sampai ilmu pelet. Ada juga cerita sahabat mengobati orang dengan ayat suci. Penulis kadang berpikir, buat mereka yang suka rekayasa asbabun nuzul suatu ayat, gimana ya alasan mereka untuk ayat meraga sukma, pelet,  menang undian kocokan, menang pilkada, menutup luka, membalikkan ilmu santet, mendatangkan makhluk gaib,  penglarisan dll ???

Beberapa kiai yang saya kenal malah tegas mengatakan : Islam rahmat semesta.. Nabi Muhammad SAW butuh 23 tahun untuk syiar agama, firman Alloh terangkum dalam Al Qur’an. Kini Al Qur’an mudah didapat di toko buku. Jadi kenapa harus bayar mahal ? Bukan kita yang punya ayat itu, bukan kita yang kabulkan doa itu. Kenapa sih tidak menghargai itu ?

Seorang kiai yang saya kenal bahkan sudah meninggalkan amalan yang tak pernah diajarkan nabi. Segala macam asmak, hizib apalagi yang ada sebutan nama nama malaikat (atau jin ?) yang tak pernah disebutkan nabi. Padahal sebelumnya beliau sangat ahli dalam ilmu hikmah. Waskita dan digdaya. Pendek kata, semua ilmu yang ada di iklan paranormal, beliau kuasai. Waktu tamunya mengeluh surat emas nya hilang, di suruh mencari ke bawah lemari yang di kamar tidur. Sang tamu mengomel, sudah bolak balik mbah…. Tapi tetap disuruh mencari. Ternyata, memang ada disana. Mendadak muncul disitu ? Entahlah. Tamu lain dagangannya di bawa kabur relasi baru yang lupa membayar. Sang kiai menyuruh  tamu itu mencari ke alamat yang disebutkan relasinya, tak lupa sang kiai menggambarkan detail rumahnya…. Lingkungan sekitarnya, barang dalam rumahnya. Posisi barang dagangannya. Sang tamu mencari kesana dan terperanjat saat tahu betapa betul nya kata si kiai. Dan cerita di atas bukan kata kiainya, tapi tamu tamunya yang kebetulan teman penulis sendiri. Apa tidak sayang meninggalkan amalan amalan ilmu hikmahnya si kiai itu ?

Jawab si kiai sederhana. Tuntunan berdoa jelas. Dari mau pakai baju, mau mandi, mau wudhu, buang air, minta selamat di jalan, mau tidur, terhindar dari musibah, doakan orang sakit… lengkap. Beli saja bukunya di toko, banyak kok… murah lagi.  Jangan terpaku dengan ayat khusus dengan ijasah khusus, dengan laku khusus yang semuanya tak pernah di ajarkan nabi. Apalagi yang ayatnya di modifikasi…  di tambah sebutan nama nama yang kita tak pernah dengar, takutnya tanpa diketahui kita justru bertindak syirik, meminta kepada selain Alloh. Bagi si kiai, nabi Muhammad SAW adalah nabi penutup. Akan aneh jika ada yang andalkan amalan dari nabi lain. Apalagi dapat amalan yang katanya amalannya para malaikat. Ingat saja…. Nabi Muhammad SAW disebut rosul karena bertugas menyampaikan wahyu. Dan dengan sifat beliau yang amanah, apa iya ada pelajaran yang disampaikan pada kalangan tertentu ? Yang khusus, rahasia dan saat itu mungkin belum pantas dibuka untuk umum ? Saat beliau akan meninggal, yang dicarinya adalah : umatku… umatku….. karena beliau cinta pada umatnya. BUKAN pada golongan atau kelompok tertentu.

Apakah si kiai yang tinggalkan semua amalan ilmu hikmahnya hilang karomahnya ??? Sama sekali tidak. Dengan tinggalkan amalan dari pakem yang dia anggap tak diajarkan nabi, dan menangani tamu yang datang dengan doa yang ‘biasa biasa’ saja…. Tak ada yang berubah. Tamu tetap merasa terbantu. Kenapa begitu ? Sederhana saja, bukan urusan kita untuk mengabulkan doa, itu wewenang Tuhan. Jadi saya anggap memang kiai itu sudah punya maqom khusus. Kiai ini masih muda. Tidak duduk manis menunggu tamu di rumah tapi aktif sebagai PNS dan pengurus masjid.

Kiai lain yang saya kenal punya kemampuan unik berhubungan dengan makhluk gaib atau arwah para wali. Wiridnya ? Tak ada. Dia bilang : capek saya ikut tarekat sana sini. Wirid sampai mulut berbusa dan tidak bisa kerja. Waktu habis buat wirid. MENGINGAT ALLOH kok dihitung ? Rahmat Alloh saja tak terhitung !!! Masuklah dia ke tahap hakikat (dia menolak disebut makrifat). Dalam batinnya selalu ingat Alloh biarpun secara fisik sibuk beraktifitas. Nyatanya, waktu ada hujan badai, didepan penulis dia ‘protes’. Hujan kok pakai angin kencang begini, berhenti sajalah anginnya… dalam hitungan detik, anginnya sirna. Saat penulis dream travel atau soul travel, sering ketemu kiai ini. Kadang bawa anaknya yang masih SD kelas 1  !!! Bahkan saat mengalami kesulitan di alam non fisik, si kiai datang dan dengan mudahnya bereskan masalah penulis. Saat bertemu secara fisik, penulis bertanya : kok sering ketemu pak ? Jadi merasa di awasi nih…. Dia jawab dengan santai… itu pesanan tuan guru, minta ‘newbie’ didampingi supaya tak ada masalah. Kiai yang ini juga masih muda, hobi main catur, wiraswasta….

Masalah benar tidaknya, bid’ah tidaknya belajar ilmu hikmah tergantung sudut pandang penilainya. Bagi penulis, selama tidak melanggar syariat saat lakunya atau pengamalannya, tidak menyiksa diri sendiri, tidak untuk merugikan orang lain…. Kenapa tidak  ? Toh Alloh yang kabulkan doa. Doa terkabul bukan karena ijazah seorang guru dan mahar yang sudah dibayar. Itu bagian dari adab berguru. Juga bukan karena menyebut nama malaikat dan jin tertentu yang ‘katanya’ sudah diikat perjanjian oleh nabi Sulaiman. Juga bukan karena tatanan laku yang di pesan sang guru. Laku adalah sebuah metode, teknik, yang sudah teruji. Pengalaman sukses itulah yang buat seorang guru berani ajarkan pada muridnya. Jadi jangan protes kalau sama ayatnya, beda tirakatnya, atau malah beda fungsinya…. Itu pengalaman pribadi pengguna sebelumnya. Kalau ayat bunyinya hampir sama ? Jangan ribut kalau tak paham bahasa arab. Tradisi lisan dalam penyampaian ijazah ayat sering buat pendengarnya menulis sesuai dengan yang dia dengar. Yang penting harus selalu di ingat, yang kabulkan doa itu Alloh.   ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: